Jika membahas kelemahan Indonesia maka kita akan
memilih dari mana sudut pandang yang akan kita gunakan untuk memilih salah satu
jenis kelemahan. Kita dapat memilih berbagai jenis sudut pandang kelemahan
Indonesia diantaranya adalah sudut pandang ekonomi, militer, kesehatan,
pendidikan, social dan masih banyak lagi. Jika kita menggunakan sudut pandang
ekonomi tentu saja kita akan membahas poin-poin kelemahan seperti pendapatan
perkapita, pengangguran dan jumlah lapangan pekerjaan. Dari sudut pandang militer
kita bisa membahas tentang system pertahanan dalam negeri dan hubunganya dengan
pihak internasional. Dari sudut pandang kesehatan juga mempunyai bahasan
menarik yaitu tentang natalitas dan mortalitas ataupun penyakit-penyakit umum
yang biasa di derita masyarakat Indonesia. Sudut pandang yang terakhir sangat
berperan dan mempunyai andil yang cukup besar dalam kelemahan dan kekuatan
Indonesia yaitu sudut pandang social. Sudut pandang social menyangkut hubungan
antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan
kelompok. Di dalam sudut pandang social ini terdapat berbagai macam topik
diataranya suku, ras, bahasa, budaya dan agama.
Dari berbagai topic sudut pandang social itulah kelemahan Indonesia
dapat dilihat.
Sudut
pandang social sangat berperan penting dalam kelemahan dan kekuatan Indonesia.
Indonesia mempunyai banyak macam suku,
ras, budaya bahasa dan agama. Lihat saja berapa jumlah suku di Indonesia? Kalo
saja sebagai sempel contoh dalam satu pulau jawa saja memiliki delapan lebih
suku bangsa, bagaimana dengan pulau-pulau besar lainya seperti Sumatra,
Kalimantan dan Irian? Tentunya ratusan suku bangsa mendiami Ibu Pertiwi kita
ini. Bagaimana dengan bahasa dan logat di Indonesia? Berapa macam logat dan
bahasa yang akan kita temukan jika kita berjalan keliling Indonesia dari Sabang
sampai Merauke? Sebagai contoh saja di daerah Temanggung, Jawa Tengah, di satu
kabupaten ini kita akan menemukan berbagai logat dan bahasa yang walaupun
sedikit berbeda, di Temanggung bagian barat (berbatasan dengen Kabupaten
Wonosobo) kita akan menemukan sebagian masyarakat yang menggunakan logat ngapak , sedangkan di bagian Temanggung
lainya (dekat dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang) pada umumnya
penduduknya menggunakan bahasa Jawa seperti Yogyakarta, Solo dan Semarang. Dilihat
dari budaya, berapa saja macam budaya yang ada di Indonesia, mulai dari badaya
tradisional, modern sampai dengan budaya kontemporer. Dari jenis-jenis budaya
itupun masih bisa dibagi ataupun di golongkan dari berbagai segi, seperti,
daerah asal, jenis akulturasi dan kegunaan atau fungsi kebudayaan tersebut.
Sebagai contoh aplikasi perbedaan kebudayaan dari segi daerah asal dan jenis
kebudayaan adalah ; di Desa Gowak, Temanggung biasa melaksanakan tradisi
Sadranan di makam leluhur dengan cara beramai-ramai memasak bersama (budaya: tradisional ; daerah asal :
Desa Gowak), sedangkan di Desa Pingit, Temanggung juga melaksanakan tradisi
Sadranan di makam leluhur, hanya saja proses pembuatan makanan/sesaji sudah ada
seseorang yang membuatnya sendiri (budaya : kontemporer ; daerah asal : Desa
Pingit).
Topik lain yang sering menjadikan inti dari
kelemahan Indonesia dari sudut pandang social adalah agama. Sebelumnya
Indonesia memiliki lima agama yang diakui secara remi, diantaranya adalah
Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan Kaholik, tetapi sekarang berbagai agama yang
ada sudah diakui. Dari jaman nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal
berbagai macam system kepercayaan diantaranya adalah animisme dan dinamisme,
pada masa keterpengaruhan budaya India bangsa kita sudah menerima agama Hindu
dan Buddha, pada masa Islamisasi bangsa kita menerima kedatangan agama Islam
dan pada masa kolonialisasi kita menerima agama Kristen dan Katholik. Hingga
sampai saat ini tercatat berbagai Agama yang dianut oleh bangsa Indonesia baik
yang diakui secara nasional maupun agama local.
Agama
sangat berpengaruh penting dalam pembangunan pribadi individu. Nilai-nilai dan
norma yang diajarkan agama didalam individu biasanya berpengaruh lekat semacam
doktrin dalam tindakan rohani maupun tindakan jasmani individu tersebut. Pada
umumnya nilai agama individu lebih kuat daripada nilai kebudayaan yang dianut. Tidak
seperti nilai dan norma lain, nilai dan norma agama lebih kuat digunakan
sebagai pedoman atau cara bagaimana individu bertindak dalam hidup dan mencapai
tujuan dalam hidup hingga urusan alam setelah hidup. Sebagaimana fungsi agama
yang dikemukakan oleh Thomas F. O’Dea,
agama menyajikan dukungan moral dan sarana emosional, pelipur lara dan
rekonsilisasi disaat manusia menghadapi ketidakpastian dan frustasi. Dengan
kuatnya nilai dan norma agama yang melekat pada individu bisa saja menjadikan
individu tersebut menjadi semacam antipasti dengan agama lain diluar agama
kepercayaan. Hal inilah yang memicu adanya konflik antara umat beragama.
Pada
umumnya suatu agama menuntun atau mengarahkan umat atau anggotanya untuk
membangun sebuah solidaritas social dengan cara mempersatukan orang-orang yang
beragama sama dan memiliki perspektif keyakinan sama di dalam sebuah komunitas.
Yang menjadi kerawanan dari pengelompokan antara umat beragama ini adalah suatu
kelompok agama memonopoli atau mengklaim kebenaran dari agamanya masing-masing.
Sebagai dampak dari monopoli pengklaiman kebenaran suatu agama ini adalah sikap
ketertutupan dan antipasti antara umat beragama satu sama lain. Jadinya
kelompok agama yang satu dengan yang lainya menjadi tidak saling terbuka atau
bahkan menjadi anti dengan kelompok lain. Hal inilah yang sedan g terjadi di
Indonesia dan menggrogoti kesatuan dan persatuan keutuhan bangsa Indonesia.
Toleransi
Beragama adalah kelemahan bangsa Indonesia yang sangat memprihatinka. Agama
yang pada akekatnya adalah naungan bagaimana kita berhubungan dengan yang
Illahi hingga penerapan nilai norma kebaikan bersama dalam berhubungan dengan
makhluk sesama kita sekarang dipersalahgunakan. Tengoklah pada zaman kerajaan
Majapahit, kerajaan Nusantara terbesar pada masa Hindu-Buddha ini menjunjung
tinggi nilai toleransi beragama, system kerajaan pada masa itu membolehkan
siapa saja yang layak baik beragama Hindu maupun Buddha duduk dalam kursi
pemerintahan, sehingga menjadikan kerajaan ini menjadi kerajaan yang besar dan
sampai sekarang masih dikenang oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara.
Bukti lain bahwa pada masa lampau Indonesia sangat menghargai toleransi
beragama adalah adanya bangunan Candi Sewu bangunan candi Buddha yang dibangun
dekat dengan Candi Prambanan yang beragama Hindu. Lalu mengapa masyarakat
sekarang sangat sulit untuk mendukung toleransi beragama? Iya, mungkin kita
sering melihat bangunan Masjid berdekatan dengan Gereja di tengah kota atau
alun-alun kota, lalu apa yang terjadi diluar itu? Penyerangan jemaat
kerohanian, pengrusakan rumah ibadah, hingga kambing-hitam antara kelompok
beragama satu dengan yang lainya, Permasalahan ini sudah menjadi santapan utama
masyarakat Indonesia diluar sana. Di Indonesia banyak sekali penyimpangan
toleransi antara umat beragama diantaranya adalah kasus penyerangan Ahmadiyah,
kasus GKI Yasmin, kasus penyerangan Syiah dan masih banyak lagi.
Ada
berbagai alasan mengapa suatu kelompok masyarakat atau kelompok kepercayaan
menjadikan antipati ataupun menutup diri dengan kelompok lainya sehingga
memunculkan berbagai tindak kekerasan. Alasan yang pertama adalah suatu
kelompok atau individu merasa sedang diserang, kekuatan dari kelompok lain
berusaha menyerang sesuatu yang baik yang sudah tertanam didalam sistetem
kepercayaan mereka. Alasan yang kedua adalah kelompok atau individu itu yakin
bahwa kita harus menghancurkan kekuatan yang merusak kepercayaan kita. Karena
mereka sudah terlalu percaya dan nilai dan norma agamanya sudah menjadi doktrin
yang baik, mereka bisa saja melakukan atau menghalalkan segala cara untuk
menghancurkan kekuatan yang merusak kepercayaanya, salah satunya adalah dengan
kekerasan, dalam hal ini kekerasan adalah hal baik karena dianggap membantu
menyelesaikan persoalan kepercayaan yang dijunjung tinggi olehnya.
Selain berbagai alasan yang sudah dikemukakan diatas,
ternyata distoleransi beragama paling rawan terjadi karena kelompok atau
individu tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi sehingga mengklaim segala
sesuatunya adalah benar dengan landasan yang tidak kuat atau samar-samar.
Sebagai contohnya adalah pengeboman sebuah hotel di bali beberapa tahun yang lalu yang digawangi oleh
Imam Samudra CS, Imam Samudra Cs adalah sekelompok teroris yang berjihad
mengatasnamakan sebuah agama dengan cara kekerasan. Sekelompok lain agama
menganggap sama orang-orang yang berada di wilayah agama yang Imam Samudra atas
namakan sebagai kendaraan berjihadnya itu sebagai kelompok agama yang keji.
Padahal disisi lain terdapat kelompok agama seperti Imam Samudra Cs yang tidak
tau atas motif apa Imam melakukan kekerasan tersebut sehingga orang lain yang
tidak tau apa-apa merasa disalhkan. Hal seperti ini bisa membuat distoleransi
antara kelompok agama lain dengan kelompok agama tersebut yang tidak tahu
apa-apa.
Kalo dilihat dari sudut perundang-undangan sebenarnya masalah
toleransi beragama sangat kecil hanya saja dipicu dengan adanya perizinan,
perizinan pembuatan bangunan misalnya. Seperti yang terjadi pada GKI Yasmin.
Hal ini sebenarnya juga terjadi sama pada bangunan Masjid di tempat minoritas
islam seperti Bali, Kupang dan Papua. Tapi apa daya, dengan mudahnya masyarakat
terprofokasi bahwa hal ini adalah masalah toleransi beragama, mereka tidak
dapat mengalah dan cenderung egois dengan apa yang sudah menjadi keyakinanya.
Bahkan dewasa ini toleransi beragama digunakan sebagai dagangan politik para
calon pemimpin Republik Indonesia. Seperti yang kita tahu bahwa Presiden Susilo
Bambang Yodhoyono mendapatkan penghargaan sebagai tokoh Toleransi Beragama dari
Appeal of Conscience Foundation (ACF) . tetapi apakah bangsa Indonesia sebagai
bangsa yang dipimpinya menerima hal itu
kalu kenyataanya seperti ini? Tentu saja tidak.
Dengan banyaknya agama dan system kepercayaan di
Indonesia yang berbeda tentu saja membuat bangsa ini menjadi rawan akan
disintergrasi social. Suatu perbedaan apabila tidak kita hadapi langsung dengan
sebuah toleransi maka akan terjadi konflik, baik itu konflik dingin maupun
konflik kekerasan seperti peperangan. Dari konflik ini munculah sebuah
pelepasan identitas kesatuan dan persatuan yang mana adalah kekuatan utama
bangsa Indonesia untuk melawan kekuatan asing yang menyerang keutuhan NKRI.
Hilangnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang disebabkan oleh
distoleransi beragama dapat memporak porandakan keutuhan NKRI dan memudahkan
campur tangan asing dalam menguasai Indonesia.
Mulai dari kerukunan beragama yang sangat riskan terjadi
sebuah konflik ini, bangsa Indonesia harus saling terbuka antara kelompok satu
dan kelompok lain. Sekarang bukan jamanya “mayoritas” dan “monoritas” karena
hal ini tidak relefan. Mayoritas di tempat A tetapi minoritas di tempat B.
Intinya kita saling mengisi satu sama lain. Kekuatan bangsa Indonesia itu
berada di Kesatuan dan Persatuan bangsanya. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma
Mangrwa harus benar-benar tercapai. Jika kekuatan batiniah kita sebagai bangsa
yang berbeda tetapi tetap satu ini terwujud maka 200 juta jiwa lebih bangsa
Indonesia bisa bersama-sama maju melawan ketertinggalan dari Negara lain.





