Rabu, 04 Juni 2014

Toleransi Beragama



Jika  membahas kelemahan Indonesia maka kita akan memilih dari mana sudut pandang yang akan kita gunakan untuk memilih salah satu jenis kelemahan. Kita dapat memilih berbagai jenis sudut pandang kelemahan Indonesia diantaranya adalah sudut pandang ekonomi, militer, kesehatan, pendidikan, social dan masih banyak lagi. Jika kita menggunakan sudut pandang ekonomi tentu saja kita akan membahas poin-poin kelemahan seperti pendapatan perkapita, pengangguran dan jumlah lapangan pekerjaan. Dari sudut pandang militer kita bisa membahas tentang system pertahanan dalam negeri dan hubunganya dengan pihak internasional. Dari sudut pandang kesehatan juga mempunyai bahasan menarik yaitu tentang natalitas dan mortalitas ataupun penyakit-penyakit umum yang biasa di derita masyarakat Indonesia. Sudut pandang yang terakhir sangat berperan dan mempunyai andil yang cukup besar dalam kelemahan dan kekuatan Indonesia yaitu sudut pandang social. Sudut pandang social menyangkut hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok. Di dalam sudut pandang social ini terdapat berbagai macam topik diataranya suku, ras, bahasa, budaya dan agama.  Dari berbagai topic sudut pandang social itulah kelemahan Indonesia dapat dilihat.
Sudut pandang social sangat berperan penting dalam kelemahan dan kekuatan Indonesia. Indonesia mempunyai  banyak macam suku, ras, budaya bahasa dan agama. Lihat saja berapa jumlah suku di Indonesia? Kalo saja sebagai sempel contoh dalam satu pulau jawa saja memiliki delapan lebih suku bangsa, bagaimana dengan pulau-pulau besar lainya seperti Sumatra, Kalimantan dan Irian? Tentunya ratusan suku bangsa mendiami Ibu Pertiwi kita ini. Bagaimana dengan bahasa dan logat di Indonesia? Berapa macam logat dan bahasa yang akan kita temukan jika kita berjalan keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke? Sebagai contoh saja di daerah Temanggung, Jawa Tengah, di satu kabupaten ini kita akan menemukan berbagai logat dan bahasa yang walaupun sedikit berbeda, di Temanggung bagian barat (berbatasan dengen Kabupaten Wonosobo) kita akan menemukan sebagian masyarakat yang menggunakan logat ngapak , sedangkan di bagian Temanggung lainya (dekat dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang) pada umumnya penduduknya menggunakan bahasa Jawa seperti Yogyakarta, Solo dan Semarang. Dilihat dari budaya, berapa saja macam budaya yang ada di Indonesia, mulai dari badaya tradisional, modern sampai dengan budaya kontemporer. Dari jenis-jenis budaya itupun masih bisa dibagi ataupun di golongkan dari berbagai segi, seperti, daerah asal, jenis akulturasi dan kegunaan atau fungsi kebudayaan tersebut. Sebagai contoh aplikasi perbedaan kebudayaan dari segi daerah asal dan jenis kebudayaan adalah ; di Desa Gowak, Temanggung biasa melaksanakan tradisi Sadranan di makam leluhur dengan cara beramai-ramai memasak  bersama (budaya: tradisional ; daerah asal : Desa Gowak), sedangkan di Desa Pingit, Temanggung juga melaksanakan tradisi Sadranan di makam leluhur, hanya saja proses pembuatan makanan/sesaji sudah ada seseorang yang membuatnya sendiri (budaya : kontemporer ; daerah asal : Desa Pingit).
 Topik lain yang sering menjadikan inti dari kelemahan Indonesia dari sudut pandang social adalah agama. Sebelumnya Indonesia memiliki lima agama yang diakui secara remi, diantaranya adalah Hindu, Buddha, Islam, Kristen, dan Kaholik, tetapi sekarang berbagai agama yang ada sudah diakui. Dari jaman nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal berbagai macam system kepercayaan diantaranya adalah animisme dan dinamisme, pada masa keterpengaruhan budaya India bangsa kita sudah menerima agama Hindu dan Buddha, pada masa Islamisasi bangsa kita menerima kedatangan agama Islam dan pada masa kolonialisasi kita menerima agama Kristen dan Katholik. Hingga sampai saat ini tercatat berbagai Agama yang dianut oleh bangsa Indonesia baik yang diakui secara nasional maupun agama local.
Agama sangat berpengaruh penting dalam pembangunan pribadi individu. Nilai-nilai dan norma yang diajarkan agama didalam individu biasanya berpengaruh lekat semacam doktrin dalam tindakan rohani maupun tindakan jasmani individu tersebut. Pada umumnya nilai agama individu lebih kuat daripada nilai kebudayaan yang dianut. Tidak seperti nilai dan norma lain, nilai dan norma agama lebih kuat digunakan sebagai pedoman atau cara bagaimana individu bertindak dalam hidup dan mencapai tujuan dalam hidup hingga urusan alam setelah hidup. Sebagaimana fungsi agama yang dikemukakan oleh  Thomas F. O’Dea, agama menyajikan dukungan moral dan sarana emosional, pelipur lara dan rekonsilisasi disaat manusia menghadapi ketidakpastian dan frustasi. Dengan kuatnya nilai dan norma agama yang melekat pada individu bisa saja menjadikan individu tersebut menjadi semacam antipasti dengan agama lain diluar agama kepercayaan. Hal inilah yang memicu adanya konflik antara umat beragama.
Pada umumnya suatu agama menuntun atau mengarahkan umat atau anggotanya untuk membangun sebuah solidaritas social dengan cara mempersatukan orang-orang yang beragama sama dan memiliki perspektif keyakinan sama di dalam sebuah komunitas. Yang menjadi kerawanan dari pengelompokan antara umat beragama ini adalah suatu kelompok agama memonopoli atau mengklaim kebenaran dari agamanya masing-masing. Sebagai dampak dari monopoli pengklaiman kebenaran suatu agama ini adalah sikap ketertutupan dan antipasti antara umat beragama satu sama lain. Jadinya kelompok agama yang satu dengan yang lainya menjadi tidak saling terbuka atau bahkan menjadi anti dengan kelompok lain. Hal inilah yang sedan g terjadi di Indonesia dan menggrogoti kesatuan dan persatuan keutuhan bangsa Indonesia.
Toleransi Beragama adalah kelemahan bangsa Indonesia yang sangat memprihatinka. Agama yang pada akekatnya adalah naungan bagaimana kita berhubungan dengan yang Illahi hingga penerapan nilai norma kebaikan bersama dalam berhubungan dengan makhluk sesama kita sekarang dipersalahgunakan. Tengoklah pada zaman kerajaan Majapahit, kerajaan Nusantara terbesar pada masa Hindu-Buddha ini menjunjung tinggi nilai toleransi beragama, system kerajaan pada masa itu membolehkan siapa saja yang layak baik beragama Hindu maupun Buddha duduk dalam kursi pemerintahan, sehingga menjadikan kerajaan ini menjadi kerajaan yang besar dan sampai sekarang masih dikenang oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara. Bukti lain bahwa pada masa lampau Indonesia sangat menghargai toleransi beragama adalah adanya bangunan Candi Sewu bangunan candi Buddha yang dibangun dekat dengan Candi Prambanan yang beragama Hindu. Lalu mengapa masyarakat sekarang sangat sulit untuk mendukung toleransi beragama? Iya, mungkin kita sering melihat bangunan Masjid berdekatan dengan Gereja di tengah kota atau alun-alun kota, lalu apa yang terjadi diluar itu? Penyerangan jemaat kerohanian, pengrusakan rumah ibadah, hingga kambing-hitam antara kelompok beragama satu dengan yang lainya, Permasalahan ini sudah menjadi santapan utama masyarakat Indonesia diluar sana. Di Indonesia banyak sekali penyimpangan toleransi antara umat beragama diantaranya adalah kasus penyerangan Ahmadiyah, kasus GKI Yasmin, kasus penyerangan Syiah dan masih banyak lagi. 
Ada berbagai alasan mengapa suatu kelompok masyarakat atau kelompok kepercayaan menjadikan antipati ataupun menutup diri dengan kelompok lainya sehingga memunculkan berbagai tindak kekerasan. Alasan yang pertama adalah suatu kelompok atau individu merasa sedang diserang, kekuatan dari kelompok lain berusaha menyerang sesuatu yang baik yang sudah tertanam didalam sistetem kepercayaan mereka. Alasan yang kedua adalah kelompok atau individu itu yakin bahwa kita harus menghancurkan kekuatan yang merusak kepercayaan kita. Karena mereka sudah terlalu percaya dan nilai dan norma agamanya sudah menjadi doktrin yang baik, mereka bisa saja melakukan atau menghalalkan segala cara untuk menghancurkan kekuatan yang merusak kepercayaanya, salah satunya adalah dengan kekerasan, dalam hal ini kekerasan adalah hal baik karena dianggap membantu menyelesaikan persoalan kepercayaan yang dijunjung tinggi olehnya.
            Selain berbagai alasan yang sudah dikemukakan diatas, ternyata distoleransi beragama paling rawan terjadi karena kelompok atau individu tidak mengetahui apa sebenarnya yang terjadi sehingga mengklaim segala sesuatunya adalah benar dengan landasan yang tidak kuat atau samar-samar. Sebagai contohnya adalah pengeboman sebuah hotel di bali  beberapa tahun yang lalu yang digawangi oleh Imam Samudra CS, Imam Samudra Cs adalah sekelompok teroris yang berjihad mengatasnamakan sebuah agama dengan cara kekerasan. Sekelompok lain agama menganggap sama orang-orang yang berada di wilayah agama yang Imam Samudra atas namakan sebagai kendaraan berjihadnya itu sebagai kelompok agama yang keji. Padahal disisi lain terdapat kelompok agama seperti Imam Samudra Cs yang tidak tau atas motif apa Imam melakukan kekerasan tersebut sehingga orang lain yang tidak tau apa-apa merasa disalhkan. Hal seperti ini bisa membuat distoleransi antara kelompok agama lain dengan kelompok agama tersebut yang tidak tahu apa-apa.
            Kalo dilihat dari sudut perundang-undangan sebenarnya masalah toleransi beragama sangat kecil hanya saja dipicu dengan adanya perizinan, perizinan pembuatan bangunan misalnya. Seperti yang terjadi pada GKI Yasmin. Hal ini sebenarnya juga terjadi sama pada bangunan Masjid di tempat minoritas islam seperti Bali, Kupang dan Papua. Tapi apa daya, dengan mudahnya masyarakat terprofokasi bahwa hal ini adalah masalah toleransi beragama, mereka tidak dapat mengalah dan cenderung egois dengan apa yang sudah menjadi keyakinanya. Bahkan dewasa ini toleransi beragama digunakan sebagai dagangan politik para calon pemimpin Republik Indonesia. Seperti yang kita tahu bahwa Presiden Susilo Bambang Yodhoyono mendapatkan penghargaan sebagai tokoh Toleransi Beragama dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) . tetapi apakah bangsa Indonesia sebagai bangsa yang dipimpinya menerima hal itu  kalu kenyataanya seperti ini? Tentu saja tidak.
            Dengan banyaknya agama dan system kepercayaan di Indonesia yang berbeda tentu saja membuat bangsa ini menjadi rawan akan disintergrasi social. Suatu perbedaan apabila tidak kita hadapi langsung dengan sebuah toleransi maka akan terjadi konflik, baik itu konflik dingin maupun konflik kekerasan seperti peperangan. Dari konflik ini munculah sebuah pelepasan identitas kesatuan dan persatuan yang mana adalah kekuatan utama bangsa Indonesia untuk melawan kekuatan asing yang menyerang keutuhan NKRI. Hilangnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang disebabkan oleh distoleransi beragama dapat memporak porandakan keutuhan NKRI dan memudahkan campur tangan asing dalam menguasai Indonesia.
            Mulai dari kerukunan beragama yang sangat riskan terjadi sebuah konflik ini, bangsa Indonesia harus saling terbuka antara kelompok satu dan kelompok lain. Sekarang bukan jamanya “mayoritas” dan “monoritas” karena hal ini tidak relefan. Mayoritas di tempat A tetapi minoritas di tempat B. Intinya kita saling mengisi satu sama lain. Kekuatan bangsa Indonesia itu berada di Kesatuan dan Persatuan bangsanya. Bhinneka Tunggal Ika Tan Hanna Dharma Mangrwa harus benar-benar tercapai. Jika kekuatan batiniah kita sebagai bangsa yang berbeda tetapi tetap satu ini terwujud maka 200 juta jiwa lebih bangsa Indonesia bisa bersama-sama maju melawan ketertinggalan dari Negara lain.